Jumat, 10 Juni 2022

FILSAFAT ETIKA

 

FILSAFAT ETIKA

A.     PENDAHULUAN.

Manusia memiliki pengetahuan yang bersifat dinamis, terus berkembang dari zaman ke zaman, karena manusia memiliki kemampuan mencerna pengalaman, merenung, merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya memahami lingkungannya.

Kemampuan-kemampuan tersebut dimiliki disebabkan manusia dibekali oleh Tuhan berupa akal atau rasio untuk berfikir, sementara mahluk yang lainnya tidak. Manusia berfikir dengan akalnya. Itulah keistimewaan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dengan akalnya manusia memiliki rasa ingin tahu (curiosity). Dari rasa ingin tahu inilah manusia selalu mempertanyakan segala hal yang dipikirkannya, menyangsikan segala sesuatu yang dilihat dan mencari segala bentuk jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Manusia selalu berusaha menjawab semua pertanyaan dan mengajukan alternative pemecahan suatu masalah. Aktifitas manusia dalam rangka mencari jawaban atau mencari tahu ini disebut aktifitas berfikir. Aktifitas ini dilakukan manusia secara terus menerus tanpa mengenal henti untuk memenuhi kebutuhan rasa ingin tahunya.[1]

            Dengan akalnya manusia berfikir dan dengan hatinya manusia merasa dan menghayati sesuatu. Itulah anugerah lain yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan akalnya manmusia berfikir dan dengan hatinya manusia berdzikir. Itulah yang membedakan manusia dengan mahluk Allah lainnya.

            Menurut Francis Bacon, akal manusia memiliki tiga macam daya, yaitu (1) ingatan, menciptakan sejarah, (2) imajinasi, menciptakan puisi, dan (3) pikiran, menghasilkan filsafat. Filsafat terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) filsafat tentang Tuhan atau Teologi, (2) filsafat tentang alam atau kosmologi, dan (3) filsafat tentang manusia atau antropologi. Selain ciri utama sebagai mahluk berfikir (kognisi), manusia juga mempunyai potensi lain, yakni perasaan (afeksi) kehendak (konasi)  dan tindakan (aksi); atau sering disebut dengan daya cipta, rasa, karsa dan karya.

            Lahirnya filsafat bermula dari aktifitas berfikir. Karena itu inti berfilsafat adalah berfikir. Namun, tidak semua aktifitas berfikir dapat disebut berfilsafat. Berfikir yang dapat disebut berfilsafat adalah berfikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni berfikir yang radikal, sistematis dan universal.

Berfilsafat adalah berfikir yang bertujuan, yaitu memperoleh pengetahuan, yakni pengetahuan yang menyangkut kebenaran. Sehingga dengan berfilsafat manusia dapat sampai kepada kebenaran.

B.      Pengertian dan Definisi Filsafat

1.      Menurut Plato : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.

2.      Menurut Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada.

3.      Menurut Rene Descartes : Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.

4.      Menurut William James : Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berfikir yang jelas dan terang.

5.      Menurut R.F. Beerling : Filsafat adalah mempertanyakan tentang seluruh kenyataan atau tentang hakekat, asas, prinsip dari kenyataan. Beerling juga mengatakan bahwa Filsafat adalah usaha untuk mencapai akar terdalam kenyataan dunia wujud , juga akar terdalam pengetahuan tentang diri sendiri.

6.      Menurut Louis O. Kattsoff, Filsafat merupakan suatu analisis  secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah dan penyusunan secara sengaja serta sistematis suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.[2]

7.      Salah satu pendapat Harold H. Titus : Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi.

8.      Menurut Poedjawijatmo : Filsafat adalah ilmu (tentang segala sesuatu) yang menyelidiki keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya.[3]

9.      Menurut Sidi Gazalba : Filsafat adalah system kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berfikir secara radikal, sistematis dan universal.[4]

10.  Menurut Lorens Bagus : Filsafat adalah upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan : sumbernya, hakekatnya, keabsahannya dan nilainya.

Kesimpulan bahwa Filsafat adalah proses berfikir secara radikal, sistematis dan universal terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada.

Ada tiga segi cakupan pokok permasalahan yang dikaji filsafat, yaitu

1.      Logika; apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah

2.      Etika ; mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk

3.      Estetika; apa yang termasuk jelek dan apa yang termasuk indah.

Pada umumnya filsafat dibagi kedalam enam bidang studi atau cabang sebagai berikut :

1.      Epistemologi. Adalah filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula, dan jangkauan; serta validitas dan reabilitas dari berbagai klaim terhadap pengetahuan.

2.      Metafisika. Adalah filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika, tentang hakekat yang bersifat transenden, diluar jangkauan pengalaman dan pengamatan indra manusia. Metafisika terdiri dari ontology, kosmologi, teologi metafisik dan antropologi.

3.      Logika. Adalah studi tentang metode berfikir dan metode penelitian ideal yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis

4.      Etika. Adalah studi tentang tingkah laku yang ideal. Termasuk dalam etika adalah aksiologi.

5.      Estetika. Adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika sering disebut juga filsafat seni

6.      Filsafat-filsafat khusus atau filsafat tentang berbagai disiplin seperti Filsafat Hukum, Filsafat sejarah, filsafat alam, Filsafat agama, filsafat manusia, Filsafat pendidikan, dan sebagainya.[5]

 

C.      Filsafat Etika

Secara Etimologi, Etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara terminology, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk[6]. Yang dapat dinilai baik buruk adalah sikap manusia yaitu yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan-gerakan, kata-kata dan sebagainya. Adapun motif, watak, suara hati sulit untuk dinilai. Perbuatan atau tingkah laku yang dikerjakan dengan kesadaran sajalah yang dapat dinilai , sedangkan yang dikerjakan dengan tidak sadar tidak dapat dinilai baik buruk.

a.      Menurut Sunoto (1982) etika dapat dibagi menjadi etika deskriptif dan etika normative. Etika deskriptif hanya melukiskan, menggambarkan, menceritakan apa adanya, tidak memberikan penilaian, tidak mengajarkan bagaimana seharusnya berbuat. Contohnya sejarah etika. Adapun etika normative sudah memberikan penilaian yang baik dan yang buruk, yang harus dikerjakan dan yang tidak. Etika normative dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum membicarakan prinsip-prinsip umum, seperti apakah nilai, motivasi suatu perbuatan, suara hati, dan sebagainya. Etika khusus adalah pelaksanaan prinsip-prinsip umum, seperti etika pergaulan, etika dalam pekerjaan dan sebagainya. (Sunoto, 1982 : 6).[7]

Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam penilaian sehari-hari ada sedikit perbedaan . Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Adapun etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.

b.      Frans Magnis Suseno (1987) membedakan ajaran moral dan etika. Ajaran moral adalah ajaran, wejangan, khotbah, peraturan lisan atau tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral adalah orang tua dan guru, para pemuka masyarakat dan agama, dan tulisan para bijak. Etika bukan sumber tambahan bagi ajaran moral, tetapi filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. ( Frans Magnis Suseno, 1987 : 14).[8]

c.       Plato, mengatakan bahwa manusia telah mengenal idea yang baik  dan bahwa hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea yang baik tersebut.

d.      Aristoteles, mengatakan bahwa kehidupan yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Etika yang dikemukakan oleh Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengaitkan tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu ; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.[9]Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak universalistic, tetapi bisa dikata egoistic, karena lebih menekankan dampak bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya.

 

Pembahasan etika biasanya dibedakan antara :

1.      Etika deontologis : menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah.

Ajarannya : baik buruknya suatu tindakan  tidak tergantung akibatnya, melainkan ada cara bertindak yang begitu saja wajib atau dilarang.

Kelemahannya : sifat mengharuskannya dan bisa fanatisme buta.

Deontologis peraturan.

Ajarannya : norma moral berlaku begitu saja (menurut Imanuel Kant, berlaku imperative katagoris)

 

2.      Etika teleologis : betul salahnya suatu tindakantergantung dari akibat-akibatnya; baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik.

Kelemahannya :   menghilangkan dasar kepastian,

                                      Kurang tegas dalam member jawaban,

                                      Kadang menghalalkan segala cara

Jenisnya :

Ø  Hedonisme (hedone = kenikmatan)

Ajarannya : yang baik bagi dirinya sendiri adalah yang membawa kenikmatan/kesenangan.

Kritik : bersifat egois dan tidak mencukupi sebagai pertanggung jawaban moral suatu tindakan.

Ø  Eudemonisme (eudaimonia=kebahagiaan)

Ajarannya : yang baik bagi manusia adalah yang membuat dia bahagia.

 

 

 

Menurut jalan pikiran manusia dalam bertindak ada dua tujuan :

1.      Tujuan demi tujuan selanjutnya

2.      Tujuan demi dirinya sendiri (kebahagiaan)

Ø  Utilitarisme (Utilitas=berguna)

Ajarannya           : yang baik adalah yang membawa manfaat bagi orang banyak.

Keunggulannya : tidak bersifat egois, melainkan universal

Kelemahannya  : tidak menjamin keadilan dan hak-hak manusia

Ø  Stoisme

Dalam dunia filsafat purba aliran Toistime langsung berlawanan dengan hedonismenya Eppucurus. authisthenes sebagaimana juga Arrstipus, adalah murid socrates. Autthisthenes melebih-lebihkan doktrin gurunya kearah yang berlawanan. Mengagumi sifat pantang dan tidak terikat pada konvensi dari gurunya Authisthenes mengajarkan bahwa kebijakan tidak hanya jalan kearah kebahagiaan, tetapi kebijakan adalah kebaikan, dan tabiat buruk adalah satu-satunya kejahatan. Dan hal-hal lainnya adalah indifern. Kesesatan paling besar adalah berpendapat bahwa kesenangan itu sesuatu yang baik.[10]

 

Authishtenes pernah berkata : “ aku lebih baik gila dari pada senang” hakikatnya kebijakan adalah Self Suffi Clency merdeka, merdeka , tidak tergantung kepada apa saja dan siapa saja.

Pengikut aliran Toisisme memandang hina sesuatu kekayaan, kesenangan, kegembiraan,kekeluargaan masyarakat, kebudayaan dan kadang-kadang memandang hina tatakrama dan sopan santun umum. Toisisme juga merupakan suatu bentuk matrealisme panteisme, dan patalisme bagi kaum Stoisisme dunia itu terdiri dari badan dunia yang terdiri dari materi kasar yang nampak pada panca indra kita jiwa dunia, dan materi halus yang berhembus sebagai angin melintas dunia menggerakan dunia dan membuatnya laksana bintang yang sangat besar.[11]

 

Dunia sendiri adalah Tuhan atau alam keduanya sama saja. Alam  berkembang sesuai dengan hukum yang tidak dapat dibelokan. Demilian semesta tidak hanya disebut alam atau Tuhan, tetapi juga nasib, dan takdir akal dan hukum. Mereka mengatakan bahwa tidak ada hal lain yang terjadi kecuali yang sungguh-sungguh terjadi.

 

Kebajikan tidak mengenal taraf-taraf dan siapa yang mempunyai sesuatu kebajikan berarti suatu kebajikan berarti mempunyai seluruh kebajikan. Hanya saja apakah hidup sesuai dengan alam, yang hidup sesuai dengan alam adalah seorang bijaksana atau seorang filosof, sedangkan yang tidak sesuai dengan alam adalah orang sinting.  Afool Banuch Spinoza, seorang panties modern, memberikan sistem moral yang pada dasarnyatoisis, meskipun bertumpu pada doktrin-doktrin fisik dan pisiologis dari Descartes. Karya-karya utamanya uang berjudul Etica lebih merupakan suatu karangan yang bersifat metafisis dan mencakup suatu karangan yang bersipat metafisis dan mencakup suatu filsafat panteistis. Kant mencoba mendamaikan gagasan kebajikan Toisis dengan gagasan kebahagiaan kaum Epiccurus dengan mengintensisnya dalam gagasan kesucian atau kesempurnaan.[12] Mengajar kesucian adalah kebajikan, sebagai kepantasan kita akan kebahagiaan . karena kebahagiaan hanya dapat di terima sebagai suatu akibat dan bukan sesuatu yang dicari.

Ø  Evaluasionisme

Teori evolusi sebenarnya menyatakan bahwa manusia selalu bisa lebih sempurna dan kemajuan itu tidak mengenal batas, hanya dalam istilah-istilah Biologis, yaitu suatu gagasan yang sangat berpengaruh dalam abad ke20.

Herbert Speneer adalah “ Nabi” dalam bidang evolusi ia menghubungkan gagasannya dengan suatu etika yang Utilitarianis. Ia berkata : “live is adjusment internal relation to eksternal relation”. Sipat penyusuaian ini adalah individual, rasial atau berazaskan kerjasama yaitu kerjasama segala sesutu dalam semesta ini tanpa saling mencampuri. Manusia selalu tidak sempurna dalam penyusuaiannya, dan merasakan suatu konflik antara dorongan-dorongan egoistis dan altruistis. Tetapi evolusi mengarahkan mendamaikan egoisme dan altruisme kerah suatu sintesi yang lebih tinggi.

Bentuk  evolusi yang berbeda  terdapat pada pengikut –pengikut  Kant lebih-lebih mereka mengambil  panatisme idealistis dari Hegel. Diantara  mereka  dikenal nama Thomas Mill Green dan Francis Herbert Bradly. Mereka Mengajukan  sebagai yang baik  yang terakhir. Self realtions  ( realisasi diri ) [13] tujuan akhir  yang identik  dengan moralitas  hanya dapat dilakukan  melalui realisasi diri. [14]Keduanya menekankan bahwa realisasi diri itu  hanya mungkin  ada dalam  Masyarakat.[15]

Dan hanya dalam masyarakat  dalam individu  menyadari bahwa adalah sebagian  dari suatu keseluruhan yang lebih besar, yakni seluruh  kemanusiaan, merupakan  manivestasi tertinggi dari yang mutlak  yang  terus berevolusi John Dewey, berlainan dengan  Green, meninggalkan  Idealisme dan memegang semacam pragmatisme yang ia sebut instrumentalisme. Berfikiran itu pungsional merupakan alat untuk berbuat. Berfikir  dilakukan tidak  demi menemukan kebenaran, tetapi untuk membuat  hidup lebih memuaskan sesuatu disebut memiliki nilai apabila seseorang menemukan kepuasan dalam mengerjakan dalam dunia pengalaman ini. Persoalan etis muncul bila seseorang harus memilih antara nilai-nilai.

Yang baik selalu  memilih  yang lebih baik dan keburukan  adalah kebaikan  yang ditolak. Kepuasan  yang lama  bermaksud mebuat  kepuasaan  baru yang  menyebabkan pengalaman baru.

Evolusi adalah kelanjutan  perubahan, penyesuaian kembali,  dan pengarahan  kembali. Tidak terdapat  tujuan  yang pasti, sebab lebih  baik dalam  perjalanan daripada  sampai tujuan, it is better  to travel than to arrive

Proses Eliminasi

Objek yang dapat  membuat manusia bahagia secara sempurna, haruslah manusia itu sendiri atau sesuatu yang bukan manusia.

Jelas bahwa kita dapat mencari sesuatu yang tidak ketahui, terdapat tiga kemungkinan:

1.      Sesuatu dibawah manusia

2.      Manusia sendiri

3.      Sesuatu diatas manusia

Yang petama kali perlu ditandaskan bahwa hal-hal yang berada di bawah manusia tidak dapat membuat manusia bahagia sempurna. Hal itu ialah benda-benda yang mengelilingi dan menguasai manusia.

Yang kedua perlu ditandaskan ialah bahwa manusia tidak dapat membuat dirinya bahagia secara sempurna, ia tidak dapat menentukan tujuan akhirnya, baik memiliki dirinya sendiri ataupun dalam memiliki kualitas kualitas tertentu dari dirinya.

Terdapat tiga kemungkinan:

1.      Hal-halyang baik untuk badan

2.      Hal-hal yang baik untuk jiwa

3.      Hal-hal yang baik untuk jiwa dan badan secara serempak

e.      Imanuel Kant. Dikatakan bahwa Kebahagiaan sebagai tolok ukur baik dan buruk. Persoalan baik dan buruk harus dilihat pada hakekat tindakan itu sendiri, baik atau buruk, yang disebut “kehendak”, bukan pada tujuannya.

 

D.    Etika Menurut Rasionalis

Rasionalisme adalah sebuah kecenderungan pemikiran yang beorientasi pada upaya menafsirkan alam dan segala penomenanya, manusia dan pebuatannya dengan bertumpu pada sejumlah teori. Aliran rasionalisme tidak terletak pada pengembalian segala sesuatu konsep semata, melainkan kepada upaya menafsirkan gejal-gejala, baik alam atau pun manusia sesuai dengan kaidah-kaidah rasional.[16]

Mu’tazilah adalah  madzhab  rasionalisme dalamm pemikiran islam. Manusia menurut Mu’tajilah, jika berakal dan berpikir , pasti memiliki pengetahuan tentang Tuhan sekali pun wahyu belum diturunkan kepadanya.[17]

Jelas kecenderungan rasionalis Mu’tazilah terbatas pada hukum-hukum etika yang berkaitan dengan pujian atau cercaan, dan pahala atau siksa. Mereka meletakan syariat berada dibawah akal. Argumentasi yang mereka kemukakan adalah wahyu tidakmenetapkan nilai tertentu pada sebuah perbuatan. Menurut madzhab Asy’riah, nilai baik dan buruk itu dapat diketahui lewat syari’at, sementara menurut Mu’tazilah lewat akal.[18] Mengembalikannya hukum-hukum etika pada prinsip-prinsip rasional dan karennya, dalam masalah etika mereka berhak dimasukan kedalam kelompok rasionalis. Dr Ali Syami al Nasyyar mengisyaratkan hubungan antara azas tauhid dan azas keadilan menjelaskan sisi etika yang terdapat dalam azas keadilan.

Menurut azas tauhid ALLAH sendiri dalam Dzatnya. Sedangkan dalam azas keadilan, ALLAH sendiri dalamkebaikan. Bahwa eliminasi kezaliman dan adanya kesendirian dalam  kebaikan termasuk dalam wilayah etika  Godziher melihat adanya persoalan etika dalam azas keadilan mu’tazilah. Ia menulis : “ pendapat yang mendominasi dan sekaligus membatasi Mu’tazilah dalam filsafat keagamaannya adalah memberikan konsep tauhid dari segala keraguan, ketidakadilan dan ketidakjelasan di dalam kepercayaan masyarakat. Dan ini secara khusus terdapat pada dua sisi.

 

E.      Penutup

Para penulis sejarah dan Intelektual modern sepakat bahwa tidak ada madzhab etika dalam pemikiran Islam. Alasannya, umat Islam memiliki sumber yang cukup dalam Al-Quran da Hadits. Karenanya mereka tidak perlu dengan pembahasa Filosofis tentang persoalan etika. Al-Quran da Hadits sendiri menghindari pembahasan filosofis terhadap ketika apalagi menciptakan madzhab-madzhab etika dengan sistem befikirnya.[19]

Pembahasan etika dalam Islam baru mendapat tempat ketika Islam bersentuhan dengan peradaban Yunani tokoh pertama yang membahas tentang etika Islam adalah Ibnu miskayah, filosof etika bebeda yang dimiliki bangsa Arab. Metoda yang menjadikan nilai-nilai Teoriotis sebagai sumber etika sudah ada sejak lama dan Aristoteles gagal dalam metoda ini, Imanuel Kant, menerbitkan bukunya Dasar-dasar Metafisika Etika, mengisyaratkan adanya wujud tuhan, kebebasan berkehendak, dan kekekalan jiwa sebagai landasan etika dan moralitas. Demikian pembahasan yang sangat sederhana dalam mata kuliah filsafat Barat. 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-          Ahmad Mahmud Shubi, Filsafat Etika ( Tanggapan kaum rasionalis dan instuisionalis Islam, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2001 ).

-          Ahmad Amin , Al- Ahklak

-          Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu Program Pascasarjana IAIN Sunan gunung Djati Bandung, 1999

-          Al-Ayahrastoni, al- Milal wa al- Nihal

-          Ali. Al-Nasysyar, Nasy’ah al –al Filer al Falsati fi al-Islam

-          W. Poepoprodjo, Filsafat Moral, Kesusilaan dalam teori dan Praktek. Pustaka Grifika. Bandug 1999.



[1] Ali Maksum, Pengantar Filsafat : Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Yogyakarta : Pen. Arruzz   

  Media,2010)   Cet.ke-3. Hlm.14

[2] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj.Soejono (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1995), hlm.4

[3] Poedjawijatmo, Pembimbing ke arah Alam Filsafat (Jakarta : Bina Aksara, 1986), hlm.8.

[4] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, I (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), hlm.24.

[5]  Ali Maksum, Pengantar Filsafat : Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Yogyakarta : Pen. Arruzz  

  Media,2010)   Cet.ke-3. Hlm.36-37

[6] Fuad Hasan,Drs : Filsafat Ilmu (Jakarta : Rieneka Cipta,2010).hlm.218

[7] Fuad Hasan,Drs : Filsafat Ilmu (Jakarta : Rieneka Cipta,2010).hlm.218

[8] Ibid,hlm.219

[9] Frans Magnis Suseno : 13 Tokoh Etika,(Kanisius,  Yogyakarta,1996), hlm.41

[10] ibid

[11] ibid

[12] Critique of practical Reason hal 11

[13]  Green T.K. Prologemena ethieq buku III

[14] Bredley, F.K Ethical Studies Essay II

[15]  ibid

[16] W. Puspoprojdo , filsafat  Moral, Kesusilaan  dalam teori  dan Prakteknya hal : 66

[17] Encyclopedia of Religion and ethieces art rasionalisme X hal : 580

[18] Al Iji, al muwaqit hal 324

[19] Ali Nasyar , Nasy’ah al filar al falsafi fi al Islam hal : 334

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ARKAN DAN TAQSIM HADITS

  ARKAN DAN TAQSIM HADITS A.       Arkan Hadits Arkan adalah bentuk jamak dari rukun, artinya rukun atau unsur. Arkan hadits berarti ruk...