FILSAFAT ETIKA
A. PENDAHULUAN.
Manusia
memiliki pengetahuan yang bersifat dinamis, terus berkembang dari zaman ke
zaman, karena manusia memiliki kemampuan mencerna pengalaman, merenung,
merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya memahami lingkungannya.
Kemampuan-kemampuan tersebut
dimiliki disebabkan manusia dibekali oleh Tuhan berupa akal atau rasio untuk
berfikir, sementara mahluk yang lainnya tidak. Manusia berfikir dengan akalnya.
Itulah keistimewaan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dengan
akalnya manusia memiliki rasa ingin tahu (curiosity). Dari rasa ingin tahu
inilah manusia selalu mempertanyakan segala hal yang dipikirkannya,
menyangsikan segala sesuatu yang dilihat dan mencari segala bentuk jawaban dari
permasalahan yang dihadapi. Manusia selalu berusaha menjawab semua pertanyaan
dan mengajukan alternative pemecahan suatu masalah. Aktifitas manusia dalam
rangka mencari jawaban atau mencari tahu ini disebut aktifitas berfikir.
Aktifitas ini dilakukan manusia secara terus menerus tanpa mengenal henti untuk
memenuhi kebutuhan rasa ingin tahunya.[1]
Dengan akalnya manusia berfikir dan dengan hatinya
manusia merasa dan menghayati sesuatu. Itulah anugerah lain yang diberikan
Allah kepada manusia. Dengan akalnya manmusia berfikir dan dengan hatinya
manusia berdzikir. Itulah yang membedakan manusia dengan mahluk Allah lainnya.
Menurut Francis Bacon, akal manusia memiliki tiga
macam daya, yaitu (1) ingatan, menciptakan sejarah, (2) imajinasi, menciptakan
puisi, dan (3) pikiran, menghasilkan filsafat. Filsafat terdiri atas
tiga bagian, yaitu (1) filsafat tentang Tuhan atau Teologi, (2) filsafat
tentang alam atau kosmologi, dan (3) filsafat tentang manusia atau antropologi.
Selain ciri utama sebagai mahluk berfikir (kognisi), manusia juga mempunyai
potensi lain, yakni perasaan (afeksi) kehendak (konasi) dan tindakan (aksi); atau sering disebut
dengan daya cipta, rasa, karsa dan karya.
Lahirnya filsafat bermula dari aktifitas berfikir. Karena
itu inti berfilsafat adalah berfikir. Namun, tidak semua aktifitas berfikir
dapat disebut berfilsafat. Berfikir yang dapat disebut berfilsafat adalah
berfikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni berfikir yang radikal,
sistematis dan universal.
Berfilsafat adalah
berfikir yang bertujuan, yaitu memperoleh pengetahuan, yakni pengetahuan yang
menyangkut kebenaran. Sehingga dengan berfilsafat manusia dapat sampai kepada
kebenaran.
B. Pengertian dan Definisi Filsafat
1. Menurut
Plato : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran
yang asli dan murni.
2. Menurut
Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya
mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada.
3. Menurut
Rene Descartes : Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang
pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.
4. Menurut
William James : Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk
berfikir yang jelas dan terang.
5. Menurut
R.F. Beerling : Filsafat adalah mempertanyakan tentang seluruh kenyataan
atau tentang hakekat, asas, prinsip dari kenyataan. Beerling juga mengatakan
bahwa Filsafat adalah usaha untuk mencapai akar terdalam kenyataan dunia wujud
, juga akar terdalam pengetahuan tentang diri sendiri.
6. Menurut
Louis O. Kattsoff, Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran
mengenai suatu masalah dan penyusunan secara sengaja serta sistematis suatu
sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.[2]
7. Salah
satu pendapat Harold H. Titus : Filsafat adalah suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi.
8. Menurut
Poedjawijatmo : Filsafat adalah ilmu (tentang segala sesuatu) yang
menyelidiki keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya.[3]
9. Menurut
Sidi Gazalba : Filsafat adalah system kebenaran tentang segala sesuatu yang
dipersoalkan sebagai hasil dari berfikir secara radikal, sistematis dan
universal.[4]
10. Menurut
Lorens Bagus : Filsafat adalah upaya untuk menentukan batas-batas dan
jangkauan pengetahuan : sumbernya, hakekatnya, keabsahannya dan nilainya.
Kesimpulan bahwa
Filsafat adalah proses berfikir secara radikal, sistematis dan universal
terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada.
Ada tiga segi
cakupan pokok permasalahan yang dikaji filsafat, yaitu
1. Logika;
apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah
2. Etika
; mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk
3. Estetika;
apa yang termasuk jelek dan apa yang termasuk indah.
Pada umumnya
filsafat dibagi kedalam enam bidang studi atau cabang sebagai berikut :
1. Epistemologi.
Adalah filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula,
dan jangkauan; serta validitas dan reabilitas dari berbagai klaim terhadap
pengetahuan.
2. Metafisika.
Adalah filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika, tentang hakekat yang
bersifat transenden, diluar jangkauan pengalaman dan pengamatan indra manusia.
Metafisika terdiri dari ontology, kosmologi, teologi metafisik dan antropologi.
3. Logika.
Adalah studi tentang metode berfikir dan metode penelitian ideal yang terdiri
dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen,
analisis dan sintesis
4. Etika.
Adalah studi tentang tingkah laku yang ideal. Termasuk dalam etika adalah
aksiologi.
5. Estetika.
Adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika sering disebut juga
filsafat seni
6. Filsafat-filsafat
khusus atau filsafat tentang berbagai disiplin seperti Filsafat Hukum, Filsafat
sejarah, filsafat alam, Filsafat agama, filsafat manusia, Filsafat pendidikan,
dan sebagainya.[5]
C. Filsafat
Etika
Secara Etimologi, Etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani)
yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara terminology, etika
adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia
dalam hubungannya dengan baik buruk[6].
Yang dapat dinilai baik buruk adalah sikap manusia yaitu yang menyangkut
perbuatan, tingkah laku, gerakan-gerakan, kata-kata dan sebagainya. Adapun
motif, watak, suara hati sulit untuk dinilai. Perbuatan atau tingkah laku yang
dikerjakan dengan kesadaran sajalah yang dapat dinilai , sedangkan yang
dikerjakan dengan tidak sadar tidak dapat dinilai baik buruk.
a.
Menurut Sunoto (1982) etika dapat dibagi menjadi
etika deskriptif dan etika normative. Etika deskriptif hanya melukiskan,
menggambarkan, menceritakan apa adanya, tidak memberikan penilaian, tidak
mengajarkan bagaimana seharusnya berbuat. Contohnya sejarah etika. Adapun etika
normative sudah memberikan penilaian yang baik dan yang buruk, yang harus
dikerjakan dan yang tidak. Etika normative dapat dibagi menjadi etika umum
dan etika khusus. Etika umum membicarakan prinsip-prinsip umum, seperti
apakah nilai, motivasi suatu perbuatan, suara hati, dan sebagainya. Etika
khusus adalah pelaksanaan prinsip-prinsip umum, seperti etika pergaulan, etika
dalam pekerjaan dan sebagainya. (Sunoto, 1982 : 6).[7]
Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam penilaian sehari-hari ada
sedikit perbedaan . Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang
dinilai. Adapun etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
b.
Frans Magnis Suseno (1987) membedakan ajaran moral
dan etika. Ajaran moral adalah ajaran, wejangan, khotbah, peraturan lisan atau
tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi
manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral adalah orang tua dan guru, para
pemuka masyarakat dan agama, dan tulisan para bijak. Etika bukan sumber
tambahan bagi ajaran moral, tetapi filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar
tentang ajaran dan pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah
ajaran. Jadi etika dan ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang
mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral.
Etika mau mengerti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil
sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. ( Frans
Magnis Suseno, 1987 : 14).[8]
c.
Plato, mengatakan bahwa manusia telah
mengenal idea yang baik dan bahwa hidup
yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea yang baik tersebut.
d.
Aristoteles, mengatakan bahwa kehidupan
yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Etika
yang dikemukakan oleh Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengaitkan
tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu ; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik
sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.[9]Kebahagiaan
siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak
universalistic, tetapi bisa dikata egoistic, karena lebih menekankan dampak
bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya.
Pembahasan etika biasanya dibedakan antara :
1. Etika
deontologis : menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat
tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah.
Ajarannya : baik buruknya suatu tindakan tidak tergantung akibatnya, melainkan ada
cara bertindak yang begitu saja wajib atau dilarang.
Kelemahannya : sifat mengharuskannya dan bisa
fanatisme buta.
Deontologis peraturan.
Ajarannya : norma moral berlaku begitu saja (menurut
Imanuel Kant, berlaku imperative katagoris)
2. Etika
teleologis
: betul salahnya suatu tindakantergantung dari akibat-akibatnya; baru dinilai
benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai
benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik.
Kelemahannya :
menghilangkan dasar kepastian,
Kurang tegas dalam member jawaban,
Kadang menghalalkan segala cara
Jenisnya :
Ø Hedonisme (hedone = kenikmatan)
Ajarannya : yang baik bagi dirinya sendiri adalah yang membawa
kenikmatan/kesenangan.
Kritik : bersifat egois dan tidak mencukupi sebagai
pertanggung jawaban moral suatu tindakan.
Ø Eudemonisme (eudaimonia=kebahagiaan)
Ajarannya : yang baik bagi manusia adalah yang membuat dia
bahagia.
Menurut jalan pikiran manusia dalam bertindak ada dua
tujuan :
1. Tujuan
demi tujuan selanjutnya
2. Tujuan
demi dirinya sendiri (kebahagiaan)
Ø Utilitarisme (Utilitas=berguna)
Ajarannya : yang baik adalah yang membawa manfaat bagi
orang banyak.
Keunggulannya : tidak bersifat egois, melainkan
universal
Kelemahannya :
tidak menjamin keadilan dan hak-hak manusia
Ø Stoisme
Dalam
dunia filsafat purba aliran Toistime langsung berlawanan dengan hedonismenya
Eppucurus. authisthenes sebagaimana juga Arrstipus, adalah murid socrates.
Autthisthenes melebih-lebihkan doktrin gurunya kearah yang berlawanan.
Mengagumi sifat pantang dan tidak terikat pada konvensi dari gurunya
Authisthenes mengajarkan bahwa kebijakan tidak hanya jalan kearah kebahagiaan,
tetapi kebijakan adalah kebaikan, dan tabiat buruk adalah satu-satunya
kejahatan. Dan hal-hal lainnya adalah indifern. Kesesatan paling besar adalah
berpendapat bahwa kesenangan itu sesuatu yang baik.[10]
Authishtenes
pernah berkata : “ aku lebih baik gila dari pada senang” hakikatnya kebijakan
adalah Self Suffi Clency merdeka, merdeka , tidak tergantung kepada apa saja
dan siapa saja.
Pengikut
aliran Toisisme memandang hina sesuatu kekayaan, kesenangan,
kegembiraan,kekeluargaan masyarakat, kebudayaan dan kadang-kadang memandang
hina tatakrama dan sopan santun umum. Toisisme juga merupakan suatu bentuk
matrealisme panteisme, dan patalisme bagi kaum Stoisisme dunia itu terdiri dari
badan dunia yang terdiri dari materi kasar yang nampak pada panca indra kita
jiwa dunia, dan materi halus yang berhembus sebagai angin melintas dunia
menggerakan dunia dan membuatnya laksana bintang yang sangat besar.[11]
Dunia
sendiri adalah Tuhan atau alam keduanya sama saja. Alam berkembang sesuai dengan hukum yang tidak
dapat dibelokan. Demilian semesta tidak hanya disebut alam atau Tuhan, tetapi
juga nasib, dan takdir akal dan hukum. Mereka mengatakan bahwa tidak ada hal
lain yang terjadi kecuali yang sungguh-sungguh terjadi.
Kebajikan tidak mengenal taraf-taraf dan siapa
yang mempunyai sesuatu kebajikan berarti suatu kebajikan berarti mempunyai
seluruh kebajikan. Hanya saja apakah hidup sesuai dengan alam, yang hidup
sesuai dengan alam adalah seorang bijaksana atau seorang filosof, sedangkan
yang tidak sesuai dengan alam adalah orang sinting. Afool Banuch Spinoza, seorang panties modern,
memberikan sistem moral yang pada dasarnyatoisis, meskipun bertumpu pada
doktrin-doktrin fisik dan pisiologis dari Descartes. Karya-karya utamanya uang
berjudul Etica lebih merupakan suatu karangan yang bersifat metafisis dan
mencakup suatu karangan yang bersipat metafisis dan mencakup suatu filsafat
panteistis. Kant mencoba mendamaikan gagasan kebajikan Toisis dengan gagasan
kebahagiaan kaum Epiccurus dengan mengintensisnya dalam gagasan kesucian atau
kesempurnaan.[12]
Mengajar kesucian adalah kebajikan, sebagai kepantasan kita akan kebahagiaan .
karena kebahagiaan hanya dapat di terima sebagai suatu akibat dan bukan sesuatu
yang dicari.
Ø Evaluasionisme
Teori
evolusi sebenarnya menyatakan bahwa manusia selalu bisa lebih sempurna dan
kemajuan itu tidak mengenal batas, hanya dalam istilah-istilah Biologis, yaitu
suatu gagasan yang sangat berpengaruh dalam abad ke20.
Herbert
Speneer adalah “ Nabi” dalam bidang evolusi ia menghubungkan gagasannya dengan
suatu etika yang Utilitarianis. Ia berkata : “live is adjusment internal
relation to eksternal relation”. Sipat penyusuaian ini adalah individual,
rasial atau berazaskan kerjasama yaitu kerjasama segala sesutu dalam semesta
ini tanpa saling mencampuri. Manusia selalu tidak sempurna dalam penyusuaiannya,
dan merasakan suatu konflik antara dorongan-dorongan egoistis dan altruistis.
Tetapi evolusi mengarahkan mendamaikan egoisme dan altruisme kerah suatu
sintesi yang lebih tinggi.
Bentuk evolusi yang berbeda terdapat pada pengikut –pengikut Kant lebih-lebih mereka mengambil panatisme idealistis dari Hegel.
Diantara mereka dikenal nama Thomas Mill Green dan Francis
Herbert Bradly. Mereka Mengajukan
sebagai yang baik yang terakhir.
Self realtions ( realisasi diri ) [13]
tujuan akhir yang identik dengan moralitas hanya dapat dilakukan melalui realisasi diri. [14]Keduanya
menekankan bahwa realisasi diri itu
hanya mungkin ada dalam Masyarakat.[15]
Dan
hanya dalam masyarakat dalam
individu menyadari bahwa adalah
sebagian dari suatu keseluruhan yang
lebih besar, yakni seluruh kemanusiaan,
merupakan manivestasi tertinggi dari
yang mutlak yang terus berevolusi John Dewey, berlainan
dengan Green, meninggalkan Idealisme dan memegang semacam pragmatisme
yang ia sebut instrumentalisme. Berfikiran itu pungsional merupakan alat untuk
berbuat. Berfikir dilakukan tidak demi menemukan kebenaran, tetapi untuk
membuat hidup lebih memuaskan sesuatu
disebut memiliki nilai apabila seseorang menemukan kepuasan dalam mengerjakan
dalam dunia pengalaman ini. Persoalan etis muncul bila seseorang harus memilih
antara nilai-nilai.
Yang
baik selalu memilih yang lebih baik dan keburukan adalah kebaikan yang ditolak. Kepuasan yang lama
bermaksud mebuat kepuasaan baru yang
menyebabkan pengalaman baru.
Evolusi adalah kelanjutan perubahan, penyesuaian kembali, dan pengarahan kembali. Tidak terdapat tujuan
yang pasti, sebab lebih baik
dalam perjalanan daripada sampai tujuan, it is better to travel than to arrive
Proses Eliminasi
Objek yang dapat membuat manusia bahagia secara sempurna,
haruslah manusia itu sendiri atau sesuatu yang bukan manusia.
Jelas bahwa kita dapat mencari sesuatu yang
tidak ketahui, terdapat tiga kemungkinan:
1. Sesuatu dibawah
manusia
2. Manusia sendiri
3. Sesuatu diatas
manusia
Yang petama
kali perlu ditandaskan bahwa hal-hal yang berada di bawah manusia tidak dapat
membuat manusia bahagia sempurna. Hal itu ialah benda-benda yang mengelilingi
dan menguasai manusia.
Yang kedua
perlu ditandaskan ialah bahwa manusia tidak dapat membuat dirinya bahagia
secara sempurna, ia tidak dapat menentukan tujuan akhirnya, baik memiliki
dirinya sendiri ataupun dalam memiliki kualitas kualitas tertentu dari dirinya.
Terdapat
tiga kemungkinan:
1.
Hal-halyang baik untuk badan
2.
Hal-hal yang baik untuk jiwa
3.
Hal-hal yang baik untuk jiwa dan badan secara
serempak
e.
Imanuel Kant. Dikatakan bahwa Kebahagiaan sebagai tolok
ukur baik dan buruk. Persoalan baik dan buruk harus dilihat pada hakekat
tindakan itu sendiri, baik atau buruk, yang disebut “kehendak”, bukan pada
tujuannya.
D. Etika Menurut
Rasionalis
Rasionalisme adalah sebuah kecenderungan
pemikiran yang beorientasi pada upaya menafsirkan alam dan segala penomenanya,
manusia dan pebuatannya dengan bertumpu pada sejumlah teori. Aliran
rasionalisme tidak terletak pada pengembalian segala sesuatu konsep semata,
melainkan kepada upaya menafsirkan gejal-gejala, baik alam atau pun manusia
sesuai dengan kaidah-kaidah rasional.[16]
Mu’tazilah adalah madzhab
rasionalisme dalamm pemikiran islam. Manusia menurut Mu’tajilah, jika
berakal dan berpikir , pasti memiliki pengetahuan tentang Tuhan sekali pun
wahyu belum diturunkan kepadanya.[17]
Jelas kecenderungan rasionalis Mu’tazilah
terbatas pada hukum-hukum etika yang berkaitan dengan pujian atau cercaan, dan
pahala atau siksa. Mereka meletakan syariat berada dibawah akal. Argumentasi
yang mereka kemukakan adalah wahyu tidakmenetapkan nilai tertentu pada sebuah
perbuatan. Menurut madzhab Asy’riah, nilai baik dan buruk itu dapat diketahui
lewat syari’at, sementara menurut Mu’tazilah lewat akal.[18]
Mengembalikannya hukum-hukum etika pada prinsip-prinsip rasional dan karennya,
dalam masalah etika mereka berhak dimasukan kedalam kelompok rasionalis. Dr Ali
Syami al Nasyyar mengisyaratkan hubungan antara azas tauhid dan azas keadilan
menjelaskan sisi etika yang terdapat dalam azas keadilan.
Menurut azas tauhid ALLAH sendiri dalam
Dzatnya. Sedangkan dalam azas keadilan, ALLAH sendiri dalamkebaikan. Bahwa
eliminasi kezaliman dan adanya kesendirian dalam kebaikan termasuk dalam wilayah etika Godziher melihat adanya persoalan etika dalam
azas keadilan mu’tazilah. Ia menulis : “ pendapat yang mendominasi dan
sekaligus membatasi Mu’tazilah dalam filsafat keagamaannya adalah memberikan
konsep tauhid dari segala keraguan, ketidakadilan dan ketidakjelasan di dalam
kepercayaan masyarakat. Dan ini secara khusus terdapat pada dua sisi.
E. Penutup
Para penulis sejarah dan Intelektual modern
sepakat bahwa tidak ada madzhab etika dalam pemikiran Islam. Alasannya, umat
Islam memiliki sumber yang cukup dalam Al-Quran da Hadits. Karenanya mereka
tidak perlu dengan pembahasa Filosofis tentang persoalan etika. Al-Quran da
Hadits sendiri menghindari pembahasan filosofis terhadap ketika apalagi
menciptakan madzhab-madzhab etika dengan sistem befikirnya.[19]
Pembahasan etika dalam Islam baru mendapat
tempat ketika Islam bersentuhan dengan peradaban Yunani tokoh pertama yang
membahas tentang etika Islam adalah Ibnu miskayah, filosof etika bebeda yang
dimiliki bangsa Arab. Metoda yang menjadikan nilai-nilai Teoriotis sebagai
sumber etika sudah ada sejak lama dan Aristoteles gagal dalam metoda ini,
Imanuel Kant, menerbitkan bukunya Dasar-dasar Metafisika Etika, mengisyaratkan
adanya wujud tuhan, kebebasan berkehendak, dan kekekalan jiwa sebagai landasan
etika dan moralitas. Demikian pembahasan yang sangat sederhana dalam mata
kuliah filsafat Barat.
DAFTAR
PUSTAKA
-
Ahmad Mahmud Shubi, Filsafat Etika ( Tanggapan kaum rasionalis
dan instuisionalis Islam, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2001 ).
-
Ahmad Amin , Al- Ahklak
-
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu Program Pascasarjana IAIN
Sunan gunung Djati Bandung, 1999
-
Al-Ayahrastoni, al- Milal wa al- Nihal
-
Ali. Al-Nasysyar, Nasy’ah al –al Filer al Falsati fi al-Islam
-
W. Poepoprodjo, Filsafat Moral, Kesusilaan dalam teori dan
Praktek. Pustaka Grifika. Bandug 1999.
[1] Ali Maksum, Pengantar Filsafat : Dari Masa Klasik hingga
Postmodernisme (Yogyakarta : Pen. Arruzz
Media,2010) Cet.ke-3.
Hlm.14
[2] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj.Soejono
(Yogyakarta : Tiara Wacana, 1995), hlm.4
[3] Poedjawijatmo, Pembimbing ke arah Alam Filsafat
(Jakarta : Bina Aksara, 1986), hlm.8.
[4] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, I (Jakarta :
Bulan Bintang, 1992), hlm.24.
[5] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat : Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Yogyakarta : Pen.
Arruzz
Media,2010)
Cet.ke-3. Hlm.36-37
[6] Fuad Hasan,Drs : Filsafat Ilmu (Jakarta : Rieneka
Cipta,2010).hlm.218
[7] Fuad Hasan,Drs : Filsafat Ilmu (Jakarta : Rieneka
Cipta,2010).hlm.218
[8] Ibid,hlm.219
[9] Frans Magnis Suseno : 13 Tokoh Etika,(Kanisius, Yogyakarta,1996), hlm.41
[10] ibid
[11] ibid
[12] Critique of practical Reason hal 11
[13] Green T.K. Prologemena
ethieq buku III
[14] Bredley, F.K Ethical Studies Essay II
[15] ibid
[16] W. Puspoprojdo , filsafat
Moral, Kesusilaan dalam
teori dan Prakteknya hal : 66
[17] Encyclopedia of Religion and ethieces art rasionalisme X hal : 580
[18] Al Iji, al muwaqit hal 324
[19] Ali Nasyar , Nasy’ah al filar al falsafi fi al Islam hal : 334
Tidak ada komentar:
Posting Komentar